Lelaki Muslim Yang Berbhakti kepada Ibunya
Pada zaman Nabi Muhammad saw, di Negeri Yaman ada seorang pemuda yang bernama Uwais Al-Qorni. Pemuda miskin yang hidup bersama ibunya ini dikenal sangat sholeh, disela-sela kesibukannya mencari nafkah sebagai penggembala ternak (onta dan domba) milik orang lain ia tidak lalai merawat dan mengurus ibunya. Sebab tidak ada lagi sanak famili yang dimiliki dan sejak kecil ia telah yatim. Satu-satunya keluarga yang masih ia miliki hanyalah ibundanya yang sudah tua dan menderita kebutaan dan tuli.
Upah yang ia terima dari menggembala ternak hanya cukup buat hidup dengan ibunya, bila ada kelebihan sering ia berikan kepada tetangganya yang membutuhkan. Oleh karena itu walaupun ia seorang pemuda miskin namun sangat disenangi dan dihormati oleh tetangganya.
Ajaran Islam yang mendidik dan mengajarkan akhlak yang luhur, dalam waktu yang relatif singkat memperoleh simpati dan telah memiliki penganut yang cukup banyak di Negeri Yaman. Demikian pula dengan Uwais Al-Qorni, ia telah mengenal dan mengamalkan ajaran tersebut dengan tekun. Adapun cerita tentang Nabi sering ia dengar dari para tetangga yang telah berkunjung ke Madinah. Pada masa itu sudah banyak penduduk Yaman yang berkunjung ke Madinah untuk bertemu Nabi saw, mereka ingin menerima ajaran langsung dari Beliau saw, yang kemudian akan mereka sebar luaskan setelah kembali di Negerinya.
Ketika Uwais Al-Qorni mendengar berita tentang perang uhud, yang menyebabkan Nabi Muhammad saw mendapat cedera karena terkena lemparan batu dan giginya patah, maka segera ia menggetok giginya dengan batu hingga patah. Demikianlah kecintaan Uwais Al Qorni terhadap Rasululloh saw.
Dorongan cinta dan rindu Uwais Al-Qorni terhadap Nabi membuat dirinya ingin berkunjung ke Madinah untuk menemuainya. “Kapan aku dapat menziarahi Nabi Muhammad s.a.w. dan memandang wajahnya dari dekat” demikian kata hatinya. Namun di sisi lain ia tidak dapat meninggalkan ibunya begitu saja. Hal ini membuat hatinya gelisah, siang-malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah Nabi saw. Hingga suatu hari ia datang mendekati ibunya dan menyampaikan isi hatinya tentang rindunya untuk bertemu Nabi saw, serta memohon agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi Muhammad saw di Madinah.
Mendengar permohonan putranya yang mengharukan itu maka ia-pun memaklumi-nya : “Pergilah wahai Uwais anaku, temuilah Nabi di rumahnya, dan bila telah berjumpa dengannya segeralah engkau kembali pulang”. Mendengar ucapan ibunya yang mengijinkan untuk pergi, Uwais sangat gembiranya hatinya. Maka segera ia berkemas dan menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, sambil berpesan kepada beberapa tetangga dekatnya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Setelah berpamitan dan mencium ibunya maka berangkatlah ia menuju Madinah. Perjalanan ia tempuh dengan berjalan kaki dengan melewati perbukitan dan gurun pasir yang sangat luas, dengan alam yang sangat keras serta banyak gangguan, mulai dari penyamun – panasnya gurun pasir di siang hari bagaikan lautan api sedang pada malam hari dinginnya sampai terasa menusuk tulang. Namun hal ini tidak dirasakannya karena kemauannya yang kuat untuk bertemu dan memandang wajah Nabi orang yang selama ini dicintai dan dirindukan.
Tidak diceritakan berapa lama perjalanan yang ia tempuh. Setibanya di Madinah Uwais Al-Qorni segera mencari rumah Nabi Muhammad saw. Dan untuk menemukan rumah Nabi bukanlah pekerjaan yang sulit. Setelah berada didepan pintu rumah Nabi ia ucapkan “assalamu’alaikum” dengan khidmat dan sopan, karena tidak segera ada jawaban dari dalam rumah yang terlihat sepi maka Uwais mengulang ucapan salam hingga beberapa kali. Setelah menunggu beberapa saat barulah ada jawaban dari seorang wanita “wa’alaikum salam” dengan tergopoh-gopoh wanita tersebut menuju pintu untuk menemui Uwais. Di hadapan wanita tersebut, dengan penuh hormat Uwais menceritakan asal usulnya dan mengutarakan maksudnya. Wanita itu, yang ternyata adalah Siti Aisyah r.a. menjelaskan bahwa Nabi yang ingin dijumpainya sedang tidak ada dirumah dan entah sampai kapan Beliau kembali. Mendengar penjelasan Siti Aisyah r.a. tersebut Uwais Al-Qorni terdiam sesaat, hatinya bimbang “antara ingin menunggu kedatangan Nabi atau segera pulang kembali kepada ibunya”. Uwais bukanlah orang yang mudah terombang-ambing oleh keraguan, rasa tanggung jawab kepada ibunya yang begitu besar, maka ia lebih memilih untuk kembali. Maka dengan sopan santun ia segera mohon diri kepada Sitti Aisyah r.a. untuk segera pulang ke Yaman, ia hanya menitipkan salam untuk Nabi Muhammad saw yang sangat dicintainya.
Setelah Nabi Muhammad saw kembali dan berada di rumahnya, beliau saw menanyakan orang yang mencarinya. Kemudian Sitti Aisyah r.a. pun menuturkan tentang kedatangan seorang pemuda dari Negeri Yaman yang ingin sekali bertemu dengan Nabi, namun pemuda itu tidak bersedia menunggu sampai Nabi kembali sebab ia tidak dapat lama-lama meninggalkan ibundanya. Nabi menjelaskan mengenai Uwais Al Qorni kepada para sahabat : “ia adalah penghuni langit bila kalian berjumpa ia, perhatikan ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya”. Setelah itu Nabi memandang kepada Ali r.a. dan Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan ia, mintalah do’a dan istighfarnya”
Murid yang Tamat Berguru
Berikut adalah cerita sufi tentang seorang murid yang telah tamat berguru. Cerita ini seringkali disampaikan oleh Guru saya kepada murid-muridnya. Biasanya cerita ini disampaikan kepada murid-murid yang masih tinggal bersama Beliau di Surau.
Suatu ketika anak surau yang berjumlah 35 orang itu dikumpulkan. Maklum, para pengabdi itu pun sudah dewasa dan mereka juga memikirkan ujung pengabdian. Mereka harus ke mana, mereka harus hidup berumah tangga, mencari pekerjaan dan lain-lain. Guru bila bercerita sangat menarik, mempesona dan membuat pendengar tak bergerak. Guru berkata, “Ada murid yang baru tamat berguru lalu ia pulang ke rumahnya. Di tengah jalan dilihatnya ada seorang putri raja yang aduhai cantiknya, sang putri sedang duduk di depan rumahnya yang indah. Si murid ini sangat terpesona dan tertarik dengan paras cantik putri itu. Dalam hatinya ia berkata, “Alangkah eloknya jika ia jadi istri dan pendamping hidup saya…?”
Terangan-angan paras gadis sampai di rumahnya, ia berkata kepada ibunya, “Ibu, anak gadis yang saya jumpai di rumah indah di pinggir jalan itu apa sudah ada yang punya?” Ibu menjawab, “Apa maksudnya?” ujar ibu menimpali pertanyaan anaknya. Anaknya berkata, “Kalau belum ada yang punya, tolong ibu lamarkan untuk saya.” “Sadar nak” begitu sergah ibunya. “Dia putri raja, kaya raya, sedangkan engkau anak orang biasa dan miskin.”
Untuk tidak mengecewakan anaknya yang baru lulus berguru dan pantas menikah itu. Sebagai ibu yang bijaksana, sang ibu pergi mencoba bertanya. Ia pergi ke rumah gadis tersebut. Maka ibu mengetok pintu sambil mengucap salam “Assalamu’alaikum!” “Wa’alaikum salam”, jawab tuan rumah. “Ada apa bu?” kata tuan rumah. “Ini anak saya kemarin lewat di depan rumah raja kebetulan dilihatlah olehnya seorang gadis manis putri raja dan ia merasa tertarik. Si anak baru tamat berguru pada wali Allah (tidak disebut nama si wali), dan maksud kedatangan hamba kemari ingin melamar anak gadis raja itu, bila raja berkenan dan bila putri itu belum ada yang punya!”
Raja memang bijaksana, untuk menolak dengan terang-terangan dan supaya tidak menyakiti hati sebagian rakyatnya ia menjawab, “Oh, ibu mau melamar untuk anak ibu. Begini bu, saya tidak bisa memutuskan sendiri, apakah lamaran itu diterima atau tidak. Karena ini adalah masalah Negara maka saya akan panggil dan mengumpulkan semua menteri untuk memutuskan hal ini. Dan ibu sebaiknya pulang dulu dan barang seminggu sudah ada keputusan.”
Sesampainya di rumah, si anak bertanya “Bagaimana bu, beritanya?” “Oh tunggu seminggu lagi nak, karena raja tidak bisa memutuskan seorang diri maka raja akan panggil menteri-menterinya untuk membahas masalah ini.” Raja memanggil menteri-menteri dan memberitahukan bahwa anak si ibu yang bernama Fulana telah datang menemui raja dengan maksud ingin melamarkan si anak pada putri raja dan bagaimana caranya supaya lamaran di tolak, dengan tidak menyakiti hati ibunya.” “Ah itu mudah raja” jawab menteri. “Buat saja persyaratan yang berat kepadanya yang sekiranya tidak dapat dipenuhi.” “Nah apa itu?” kata raja. “Minta saja tujuh buah mutiara sebesar telur, pasti ia tidak akan bisa memenuhi dan karena itu persyaratan untuk mempersunting putri raja menjadi gagal.” “Wah pandai kau menteri. Aku setuju dengan caramu itu, nanti akan aku katakan pada ibu si anak itu jika ia datang ke sini untuk menanyakan keputusan raja.” Benar saja seminggu kemudian pintu raja terketuk dan terdengar “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam”, pintu dibukakan dan si ibu pun dipersilakan masuk untuk menanyakan bagaimana kabar beritanya. “Begini, lamaran ibu diterima asalkan anak ibu menyiapkan tujuh butir mutiara sebesar telur lalu diserahkan pada raja. Itu persyaratannya.” jelas raja. “Kalau begitu saya beritahukan pada anak saya, sanggup atau tidak.” jawab ibu. “Oh ya, ya silakan.”
Si ibu pun pulang dari rumah raja, di pintu dia sudah disambut oleh anak itu sambil bertanya, ”Bagaimana kabarnya bu?” ”Aduh itu nak, tujuh turunan dari kakek sampai anak cucu, mencari duit untuk tidak dibuat makan, tatapi dibuat untuk membeli tujuh butir mutiara sebesar telur ayam itu tidak akan bisa terkumpul.” “Oh itu rupanya yang menjadi persyaratan diterimanya lamaran saya Bu?” “Betul nak, itu mana mungkin.” “Ah, Itu soal kecil, Bu!” tanggap anaknya. “Ha, soal kecil?” ibunya terheran. “Allah Ta’ala kan kaya bu” kata si anak, dan si ibu dibuat bingung mendengarnya. Si anak berkata, “Mutiara sebesar dan sebanyak itu hanya ada di Laut Cina Selatan.”
Diam-diam si anak keluar dengan membawa tempurung kelapa dan pergi ke Laut Cina Selatan. Dia kuras laut itu dengan batok kelapa (tempurung kelapa) sambil membaca: laa ilaaha illa Allah pada tiap kurasan, sehingga hampir habis air laut itu(secara gaib). Tiba-tiba geger penghuni-penghuni laut, berupa jin-jin penjaga laut itu dan mereka berteriak, “Stop…stop…! jangan kau teruskan nanti kering laut ini dan matilah anak buah kami. Sebenarnya apa yang engkau cari?” “Saya akan mencari tujuh butir mutiara sebesar telur ayam dan mutiara itu hanya ada di laut ini. Karena itu saya harus menguras dan mengeringkan laut ini.” begitu kata si murid wali itu dengan tegas.
Panglima jin penghuni laut itu berkata, “Kalau soal itu gampang, nanti saya akan memerintahkan anak buahku untuk mencari mutiara-mutiara itu dengan menyelami laut ini, dan tidak usah kau teruskan untuk menguras laut.” “Nah kalau kau sudah menjamin begitu, baiklah akan saya hentikan menguras laut ini.” Sesaat kemudian anak buah penghuni Laut Cina Selatan itu diperintahkan menyelam ke dasar laut sampai ditemukan ketujuh batu mutiara, lalu oleh penghulu jin mutiara itu disampaikan pada anak tadi dan ketujuh butir mutiara itu dibawa pulang oleh anak tadi.
Sesampainya di rumah, ibu menyapa “Sudah datang nak?” “Ya sudah datang dan ini tujuh buah mutiara yang diminta raja” kata anaknya. Oleh ibunya ketujuh butir mutiara itu di ambil dan ditimang-timang, dibalik-balik setengah tidak percaya. Lalu si anak menyeletuk, “Itu mutiara asli, bukan batu atau plastik bu!” meyakinkan pada ibunya. Sang ibu pun terdiam.
Esok harinya si ibu mengantarkan ketujuh butir mutiara itu kehadapan raja.” Assalamu’alaiku” “Wa’alaikum salam. Apa kabar bu?” “Kabar baik, dan ini tujuh butir mutiara yang raja minta dari anak saya, saya disuruh untuk mengantarkannya ke hadapan raja dan menyerahkannya.
Ketujuh butir mutiara itu pun diterima oleh raja, si raja terbelalak kedua matanya, terheran-heran hampir tidak percaya, seolah-olah dalam mimpi saja. Di balik-balik mutiara-mutiara itu, terheran melebihi kehendaknya. Raja terkagum diam. lalu si ibu berkata, “Tak usah khawatir raja, itu asli mutiara, bukan palsu, batu, atau plastik mainan, kata anak saya.” Raja pun terhentak dan akhirnya perkawinan pun dilaksanakan.
Pada zaman Nabi Muhammad saw, di Negeri Yaman ada seorang pemuda yang bernama Uwais Al-Qorni. Pemuda miskin yang hidup bersama ibunya ini dikenal sangat sholeh, disela-sela kesibukannya mencari nafkah sebagai penggembala ternak (onta dan domba) milik orang lain ia tidak lalai merawat dan mengurus ibunya. Sebab tidak ada lagi sanak famili yang dimiliki dan sejak kecil ia telah yatim. Satu-satunya keluarga yang masih ia miliki hanyalah ibundanya yang sudah tua dan menderita kebutaan dan tuli.
Upah yang ia terima dari menggembala ternak hanya cukup buat hidup dengan ibunya, bila ada kelebihan sering ia berikan kepada tetangganya yang membutuhkan. Oleh karena itu walaupun ia seorang pemuda miskin namun sangat disenangi dan dihormati oleh tetangganya.
Ajaran Islam yang mendidik dan mengajarkan akhlak yang luhur, dalam waktu yang relatif singkat memperoleh simpati dan telah memiliki penganut yang cukup banyak di Negeri Yaman. Demikian pula dengan Uwais Al-Qorni, ia telah mengenal dan mengamalkan ajaran tersebut dengan tekun. Adapun cerita tentang Nabi sering ia dengar dari para tetangga yang telah berkunjung ke Madinah. Pada masa itu sudah banyak penduduk Yaman yang berkunjung ke Madinah untuk bertemu Nabi saw, mereka ingin menerima ajaran langsung dari Beliau saw, yang kemudian akan mereka sebar luaskan setelah kembali di Negerinya.
Ketika Uwais Al-Qorni mendengar berita tentang perang uhud, yang menyebabkan Nabi Muhammad saw mendapat cedera karena terkena lemparan batu dan giginya patah, maka segera ia menggetok giginya dengan batu hingga patah. Demikianlah kecintaan Uwais Al Qorni terhadap Rasululloh saw.
Dorongan cinta dan rindu Uwais Al-Qorni terhadap Nabi membuat dirinya ingin berkunjung ke Madinah untuk menemuainya. “Kapan aku dapat menziarahi Nabi Muhammad s.a.w. dan memandang wajahnya dari dekat” demikian kata hatinya. Namun di sisi lain ia tidak dapat meninggalkan ibunya begitu saja. Hal ini membuat hatinya gelisah, siang-malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah Nabi saw. Hingga suatu hari ia datang mendekati ibunya dan menyampaikan isi hatinya tentang rindunya untuk bertemu Nabi saw, serta memohon agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi Muhammad saw di Madinah.
Mendengar permohonan putranya yang mengharukan itu maka ia-pun memaklumi-nya : “Pergilah wahai Uwais anaku, temuilah Nabi di rumahnya, dan bila telah berjumpa dengannya segeralah engkau kembali pulang”. Mendengar ucapan ibunya yang mengijinkan untuk pergi, Uwais sangat gembiranya hatinya. Maka segera ia berkemas dan menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, sambil berpesan kepada beberapa tetangga dekatnya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Setelah berpamitan dan mencium ibunya maka berangkatlah ia menuju Madinah. Perjalanan ia tempuh dengan berjalan kaki dengan melewati perbukitan dan gurun pasir yang sangat luas, dengan alam yang sangat keras serta banyak gangguan, mulai dari penyamun – panasnya gurun pasir di siang hari bagaikan lautan api sedang pada malam hari dinginnya sampai terasa menusuk tulang. Namun hal ini tidak dirasakannya karena kemauannya yang kuat untuk bertemu dan memandang wajah Nabi orang yang selama ini dicintai dan dirindukan.
Tidak diceritakan berapa lama perjalanan yang ia tempuh. Setibanya di Madinah Uwais Al-Qorni segera mencari rumah Nabi Muhammad saw. Dan untuk menemukan rumah Nabi bukanlah pekerjaan yang sulit. Setelah berada didepan pintu rumah Nabi ia ucapkan “assalamu’alaikum” dengan khidmat dan sopan, karena tidak segera ada jawaban dari dalam rumah yang terlihat sepi maka Uwais mengulang ucapan salam hingga beberapa kali. Setelah menunggu beberapa saat barulah ada jawaban dari seorang wanita “wa’alaikum salam” dengan tergopoh-gopoh wanita tersebut menuju pintu untuk menemui Uwais. Di hadapan wanita tersebut, dengan penuh hormat Uwais menceritakan asal usulnya dan mengutarakan maksudnya. Wanita itu, yang ternyata adalah Siti Aisyah r.a. menjelaskan bahwa Nabi yang ingin dijumpainya sedang tidak ada dirumah dan entah sampai kapan Beliau kembali. Mendengar penjelasan Siti Aisyah r.a. tersebut Uwais Al-Qorni terdiam sesaat, hatinya bimbang “antara ingin menunggu kedatangan Nabi atau segera pulang kembali kepada ibunya”. Uwais bukanlah orang yang mudah terombang-ambing oleh keraguan, rasa tanggung jawab kepada ibunya yang begitu besar, maka ia lebih memilih untuk kembali. Maka dengan sopan santun ia segera mohon diri kepada Sitti Aisyah r.a. untuk segera pulang ke Yaman, ia hanya menitipkan salam untuk Nabi Muhammad saw yang sangat dicintainya.
Setelah Nabi Muhammad saw kembali dan berada di rumahnya, beliau saw menanyakan orang yang mencarinya. Kemudian Sitti Aisyah r.a. pun menuturkan tentang kedatangan seorang pemuda dari Negeri Yaman yang ingin sekali bertemu dengan Nabi, namun pemuda itu tidak bersedia menunggu sampai Nabi kembali sebab ia tidak dapat lama-lama meninggalkan ibundanya. Nabi menjelaskan mengenai Uwais Al Qorni kepada para sahabat : “ia adalah penghuni langit bila kalian berjumpa ia, perhatikan ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya”. Setelah itu Nabi memandang kepada Ali r.a. dan Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan ia, mintalah do’a dan istighfarnya”
Potret Umar Bin Khattab Ketika Membaca Al Qur’an
Umar bin Khattab terkenal dengan keberaniannya. Bahkan, ia termasuk sahabat Rasulullah SAW yang paling keras dan galak. Tidak pernah melihat satu kemungkaran pun, kecuali ia menghancurkan kemungkaran itu dengan tangan dan keberaniannya. Karena itulah, ia dikenal dengan sebutan al-faruq yang berarti orang yang suka membedakan antara yang hak dan yang batil.
Namun, meski ia terkenal dengan sifatnya yang keras dan berani, ketika mendengar atau membaca ayat Al Qur’an, ia termasuk orang yang sering menangis dan lemah. Al Qur’an betul-betul telah memberikan pengaruh luar biasa terhadap diri dan jiwanya.
Dalam sebuah riwayat dari al-Hasan disebutkan bahwa Umar bin Khattab apabila membaca ayat-ayat Al Qur’an tentang siksa api neraka atau tentang kematian, ia sangat takut. Lalu menangis tersedu-sedu sehingga tubuhnya jatuh ke tanah. Setelah itu, ia tidak keluar rumah selama satu atau dua hari, sehingga orang-orang menyangka bahwa ia sedang sakit.
Abdullah bin Syadad bin al-Had berkata: “Aku mendengar tangisan Umar bin Khattab yang tersedu-sedu, padahal saati aku itu berada di barisan yang paling akhir ketika shalat Shubuh. Ia saat itu membaca surat Yusuf”.
Alqamah bin Waqash al-Laitsi juga berkata: “Aku pernah shalat Isya di belakang Umar bin Khattab. Lalu ia membaca surat yusuf. Ketika ia membaca ayat yang menerangkan tentang Nabi Yusuf, ia menangis tersedu-sedu sehingga suara tangisannya itu terdengar dengan jelas, padahal aku saat itu berada di barisan paling belakang.”
Suatu hari Umar bin Khattab mendengar orang yang sedang shalat Tahajud membaca surat al-Thur. Ketika orang tersebut membaca ayat: “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolak” (Al-Thur: 7-8), Umar berkata: “Itu adalah sumpah Allah yang pasti benar.” Mendengar itu, ia segera bergegas menuju rumahnya, dan ia sakit selama satu bulan sehingga orang-orang menjenguknya. Mereka tidak mengetahui sebab yang menyebabkannya sakit”.
KAKEK TUA DAN WALI ALLAH
Cerita berikut adalah cerita Tasawufan, hanya sebuah anekdot sufi tentu saja tidak harus ditanggapi secara serius dan jika ada hal-hal kurang berkenan dalam cerita itu jangan terlalu serius ditanggapi anggap saja ini hanya sebuah cerita belaka.
Di sebuah Desa di daerah Sumatera tinggallah orang tua yang telah berumur 70 tahun. Sewaktu muda dia sangat rajin beribadah, namun ketika sudah tua mulai malas-malasan bahkan tidak pernah lagi melaksanakan shalat juga ibadah-ibadah lain.
Suatu hari ada seorang Wali Allah datang kekampungnya memberikan ceramah, kakek tua tadi ikut mendengarkan ceramah Wali tersebut. Tentu saja ceramah seorang Wali Allah berisi hakikat dan ajakan untuk memperbanyak ibadah sebagai persiapan ketika akan meninggal dunia.
Sang Wali Allah berkata,
“Hai Manusia-manusia, sadarlah bahwa umur kita ini semakin lama semakin berkurang dan tidak ada manusia yang bisa menolak kematian. Amal perbuatan anda akan diperhitungkan, kalau lebih banyak buruk dari pada baik maka anda akan dimasukkan ke dalam neraka. Neraka itu sangat panas, 7 kilometer saja jarak dari neraka maka otak anda akan mendidih. Karena itu sadarlah, segeralah bertaubat, perbanyaklah ibadah dan carilah orang yang makbul do’anya agar mendo’akan saudara-saudara sekalian. Do’a seorang Wali itu pasti dimakbulkan Tuhan karena Wali Allah itu adalah kekasih Allah”.
Begitulah Wali Allah memberikan ceramah kepada warga kampung tersebut. Mendengar ceramah Wali Allah, kakek tua siang malam tidak bisa tidur, dia sangat takut akan siksa neraka. Kesalahan-kesalahan masa lalu setiap saat terbanyang dan sangat mengganggu. Dia ingat akan petuah Wali Allah bahwa bersedekah dan meminta do’a kepada Wali Allah itu adalah ibadah tinggi dan do’a Wali sangat dimakbulkan Tuhan.
Kakek tua bukanlah seorang yang kaya, hidupnya pas-pasan, satu-satu nya harta berharga yang dia miliki adalah seekor kambing jantan. Dia ingin sekali memberikan kambing miliknya kepada Wali Allah akan tetapi tempat tinggal Wali Allah itu sangat jauh dari rumahnya (lebih kurang 100 km).
Akhirnya dileher kambing itu dituliskan sebuah pesan :
KAMBING UNTUK WALI ALLAH
TOLONG YA WALI ALLAH DO’AKAN SAYA AGAR MASUK SURGA, DI EMPERAN SURGA PUN TAK APALAH ASAL JANGAN DI NERAKA. KONON KABARNYA NERAKA ITU PANAS SEKALI, TOLONG YA WALI ALLAH DO’AKAN SAYA.
DARI KEKEK TUA BIN KAKEK SANGAT TUA
Kemudian kakek tua menuntun kambing dengan berjalan kaki sejauh 8 km dan dilepas begitu saja dan kakek itu pulang kerumahnya. Kambing itu dilihat oleh seorang anak muda dan membaca tulisan itu dan menuntun juga sejauh 8 km. Demikianlah sambung menyambung akhirnya kambing itu sampai kepada Wali Allah.
Wali Allah membaca tulisan di leher kambing, kemudian Beliau mendo’akan orang tua itu agar masuk surga.
Dua bulan kemudian meninggallah orang tua itu dan dikuburkan oleh penduduk kampung. Orang sekampung dibuat geger karena orang tua yang tidak pernah shalat meninggalnya dalam keadaan tersenyum.
Setelah yang mengantar jenazah pulang, di dalam kubur kakek tua didatangi oleh Malaikat Munkar Nankir. Kakek tua melihat malaikat itu dengan heran dan dalam hati berbisik, “Rasa nya aku kenal dengan orang ini”. Belum sempat kakek tua beramah tamah dengan kedua Malaikat, langsung Malaikat bertanya dengan suara membentak:
“Maa Rabbuka!”
Kakek tua terkejut, tentu saja dia bingung dengan ucapan malaikat karena dia tidak mengerti sama sekali bahasa Arab, “Jangan lah kau bentak-bentak aku, aku tak paham dengan yang kau cakapkan itu, semuanya sudah aku serah kepada Wali Allah”
Malaikat melanjutkan bertanya masih dengan suara membentak,
“Wa Maa Nabiyyuka!”
Dengan kesal Kekek Tua juga menjawab dengan membentak pula, “Kenapa kau memaksa, aku tak paham yang kau cakapkan itu, semuanya sudah aku serahkan kepada Wali Allah!”
Malaikat tidak memperdulikan jawaban kakek tua dan tetap melanjutkan pertanyaan dengan suara yang lebih keras
“Wa Maa Qiblatuka!”
Dengan marah kakek tua bangkit, “Tak kau hargai aku ya, ku tinju kau nanti!” sambil mangacungkan tinjunya. Kedua malaikat sangat ketakutan dan lari terbirit-birit dan melapor kepada Allah.
“Ya Allah, ada manusia ganjil di kuburan sana”
“Manusia ganjil bagaimana?” tanya Allah
“Setiap pertanyaan kami selalu jawabannya, sudah diserahkan kepada Wali Allah dan ketika kami mengajukan pertanyaan ke-3 dia marah dan kami mau di tinju nya”
“Hebat orang itu berani meninju malaikat, coba kalian bawa buku catatan amalannya”
Malaikat membawa buku catatan kakek tua kehadapan Allah dan ketika Allah membuka buku tersebut dengan senyum-senyum berkata, “Oh kalau yang ini nggak usah kalian urus, ini urusan Aku, buka aja pintu surga, masukkan dia kedalam surga”
Prahara Kematian
Pada zaman dahulu kala diceritakan ada seorang guru sufi memiliki enam puluh murid. Karena kedekatannya, sang guru pun hafal benar dengan kamampuan masing-masing muridnya. Pada suatu sore sang guru merasa bahwa saatnya untuk melakukan pengembaraan (safar) sudah tiba bagi murid-muridnya.
Lalu sang guru sufi mengumpulkan semua murid-muridnya. Dia ingin menyampaikan rencananya untuk melakukan tahapan pengembaraan.
“Sekarang saatnya kita harus melakukan pengembaraan jauh. Akan ada sebuah kejadian disepanjang perjalanan yang akan menimpa kita. Aku sendiri tidak tahu, apa itu. Dan kalian aku pikir sudah cukup paham untuk memasuki tahapan –maqam- ini,” demikian urai sang guru sufi, “Tapi ada satu hal yang harus kalian ingat, yakni perkataan ini: ‘Aku harus mati demi sang sufi’. Bersiaplah untuk meneriakkannya pada waktunya nanti. Dan aku akan mengangkat tanganku sebagai tanda,” lanjut sang guru sufi.
Para murid mulai berbisik-bisik satu sama lain. Mereka begitu heran dan khawatir, apa maksud dari perkataan gurunya? Ada kecurigaan menyelimuti mereka.
“Guru tahu bahwa kelak akan terjadi peristiwa tragis, dan dia siap mengorbankan kita semua. Guru tidak ingin mengorbankan dirinya sendiri,” kata seseorang dari mereka.
Salah seorang yang lain mencoba berani berkata: “Guru mungkin membuat rencana jahat. Boleh jadi itu sebuah pembunuhan. Saya tidak akan melakukan syarat yang dikatakannya.”
Namun, akhirnya pengembaraan pun segera dijalankan. Satu demi satu muridnya bergerak. Dan setapak demi setapak pengembaraan terus dijelang.
Setelah berhari-hari melakukan pengembaraan, tibalah sang guru bersama murid-muridnya disebuah kota. Ketika sampai di kota itu, kota selanjutnya sudah dikuasai oleh seorang raja zalim.
Raja kejam dengan pasukannya yang kuat menangkapi semua orang yang masuk ke kota itu. Dan siapa pun harus dipenggal karena dianggap melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri.
Raja kejam itu ketika melihat rombongan sang guru sufi kemudian memerintahkan pasukannya agar menangkap mereka, “Tangkap orang yang lemah lembut itu dan bawa dia untuk diadili di tengah-tengah alun-alun kota. Aku ingin menghukumnya sebagai seorang penjahat”.
Tidak ada kalimat yang terucap, kecuali: “siaa…ap, paduka raja!” Mereka kemudian menangkapi orang-orang yang ada di jalanan. Salah seorang murid guru sufi kemudian tertangkap.
Namun kemudian sang guru sufi mengikuti muridnya yang dibawa oleh tentara itu menuju rajanya. Genderang ditabuh; suasana riuh. Dan orang-orang penduduk kota pun semua berkumpul. Mereka paham kalau genderang yang didengar adalah isyarat kebiadaban dan kematian.
Lalu sang murid itu dilempar ke hadapan sang raja, dan sang raja berkata: “Sebagai contoh, kamu akan saya hukum sebagai seorang penjahat, agar penduduk tahu kalau saya tidak akan membiarkan pemberontakan dan pelarian.”
Namun, tiba-tiba sang guru berteriak dengan suara lantang: “Terimalah hidupku, wahai raja yang mulia, sebagai pengganti hidup pemuda yang tidak bersalah ini! Aku lah yang sebenarnya harus dihukum, karena aku lah yang mengajak dia mengembara!”
Pada waktu yang bersamaan, sang guru sufi itu mengangkat tangan kanannya. Lalu pekik menyahut membahana, seperti yang sudah diajarkan sebelumnya: “Izinkan kami saja yang mati sebagai ganti guru sufi kami itu”
Raja menjadi kaget dan keheranan. Lalu dia berpaling ke arah penasihat dan bertanya: “Orang macam apa mereka? Kenapa mereka berebut kematian? Jika ini yang dimaksud kepahlawanan, apakah ini tidak berarti sedang memprovokasi penduduk untuk melawan aku? Beri tahu aku penasehat, Apa yang harus aku lakukan?” tanya sang raja, dicekam kebingungan.
“Wahai raja, kalau ini dianggap sebagai kepahlawanan, maka kita harus bertindak kejam agar penduduk takut dan hilang keberaniannya! Tapi, saya kira tidak salah kalau saya lebih dahulu bertanya kepada guru mereka,” kata sang penasehat kepada raja.
Dan ketika ditanya, sang guru sufi menjawab: “Baginda yang mulia, telah diramalkan bahwa seorang manusia akan mati hari dan di sini. Orang itu akan mati dan hidup lagi. Lalu dia akan hidup abadi. Makanya aku dan murid-muridku ingin sekali menjadi orang itu.”
Lalu tiba-tiba kerakusan dalam diri sang raja pun berbisik dalam hatinya: “Kenapa harus orang lain yang mendapatkan keabadian? Kenapa aku membiarkan orang lain untuk mendapatkan keabadian itu! Bodoh sekali aku.”
Dan entah bagaimana sejenak kemudian raja memerintahkan pengawalnya agar segera membunuh dirinya untuk menyongsong keabadian itu. Akhirnya raja yang zalim dan rakus akan kekuasaan itu harus mati demi keabadian.
Dikutip dari Buku Seri Teladan Humor Sufistik, Harga Sebuah Loyalitas, Karya Tasirun Sulaiman, Penerbit Erlangga, 2005
BUAH MANGGIS
Seorang turis dari Siberia, sebuah daerah dekat kutub utara berkunjung ke Indonesia dalam rangka mengisi masa liburannya. Ini kunjungan pertama kali dia ke luar negeri, dan negara yang ingin dikunjunginya adalah daerah tropis yang terletak di khatulistiwa dengan ciri khas mengalami musim panas sepanjang tahun dan tentu amat berbeda sekali dengan negeri asalnya yang sepanjang tahun diliputi musim dingin.
Sebelum berkunjung ke Indonesia dia sudah mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan Indonesia, seluruh pengetahuan tentang Indonesia, baik karakteristik masyarakatnya yang ramah tamah, makanan khas serta berbagai jenis buah-buahan dipelajari dengan sempurna, tentu dia sudah merasa yakin sekali pengetahuan tentang Indonesia sudah sangat sempurna menurut dia.
Salah satu yang membuat dia penasaran dan ingin sekali menikmatinya adalah buah manggis yang diceritakan sebagai buah amat manis rasanya, berbuah sepanjang tahun tanpa mengenal musim, bentuknya seperti buah apel namun manisnya beratus kali lipat lebih manis dari apel.
Dia menginap di sebuah hotel, hari pertama kedatangannya langsung memesan sekeranjang buah manggis kepada pelayan hotel, setelah menerima pesanannya kemudian dia bertanya kepada pelayan hotel:
“Benar ini buah manggis yang terkenal sangat manis itu?”,
“Benar tuan, inilah buah manggis” jawab pelayan hotel.
Kemudian turis tadi membawa buah manggis itu ke kamarnya, dengan tidak sabar langsung dia memakan buah manggis seperti memakan buah apel, yang dimakan adalah kulitnya, dan tentu saja sangat pahit rasanya, dia langsung memuntahkannya. Kemudian dia panggil pelayan hotel, sambil marah-marah: “anda telah menipu saya, ini bukan buah manggis”
Dengan gugup pelayan hotel menjawab: “benar tuan, inilah buah manggis, kenapa tuan ragu?”
Dengan wajah kesal turis itu berkata: “Kalau benar ini buah manggis, berarti penipu semua orang Indonesia, penipu profesor yang ngarang buku tentang manggis, katanya manis dan enak, ini kok pahit?”
“gimana cara tuan memakannya?”
“Ya seperti makan buah apel, saya cuci langsung dimakan, memangnya kenapa?”
Pelayan hotel senyum-senyum, “Bukan begitu tuan, buah manggis tidak sama dengan buah apel, jangan tuan makan kulitnya, yang dimakan itu isi dalamnya”
Pelayan hotel memberikan contoh cara makan manggis, dan sang turis mencontohnya, setelah buah manggis dimakan dengan cara yang benar maka dia barkata, : “Luar biasa, ternyata buah manggis itu memang benar-benar sangat manis dan enak”
Cerita di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa pengetahuan tentang sesuatu tidak lah cukup hanya dengan membaca, terkadang apa yang kita baca berbeda dengan kenyataan. Makan buah manggis yang terkenal manis kalau tidak tahu caranya malah jadi pahit, lalu bagaimana dengan beragama kalau hanya “makan” kulitnya?
Allah SWT berfirman, “Banyak orang berpuasa hanya mendapat lapar dan dahaga”, padahal orang berpuasa dua kenikmatan yang diberikan oleh Allah yaitu saat berbuka dan berjumpa dengan Tuhannya sebagai kenikmatan yang tiada bandingannya (bagi yang tidak yakin Tuhan bisa dijumpai di dunia sudah pasti hanya dapat nikmat berbuka aja), atau ancaman Neraka Wail bagi orang yang lalai dalam shalat, padahal shalat adalah media dialog yang sangat khusus dengan Tuhan, lewat shalat lah kita bisa mengakrabkan diri dengan-Nya, tapi justru menjadi bala/neraka karena tidak tahu metode yang tepat.
Sudah saatnya kita memperbaiki cara makan buah manggis, jangan terlalu asik dengan keindahan kulit, tujuan kulit itu tidak lain untuk membungkus isi yang sangat berharga, kalau anda tetap juga makan kulitnya jangan salahkan sufimuda kalau semakin anda makan semakin terasa pahit, pening, susah, gundah, takut, de el el, he he he
DIarsipkan di bawah: Cerita Sufi | Ditandai: Cerita Sufi
Sulthanul Aulia Ahli Silsilah ke-36 yang
mendapat gelar “Master Dunia Akhirat” mengatakan:
“Hanya orang bodoh dan orang gila yang tidak ingin kaya”
Syahdan, ada seorang syaikh yang hidup sederhana. Dia makan sekedar kebutuhan untuk bertahan-hidup saja. Karena profesinya nelayan, pagi-pagi dia memancing ikan. Setelah mendapat banyak ikan, dia membelah ikan-ikan itu menjadi dua: batang tubuh ikan itu dibagi-bagikan kepada tetangganya, sementara kepalanya dia kumpulkan untuk dimasak sendiri. Karena terbiasa makan kepala ikan itulah sehingga ia diberi julukan syaikh kepala ikan. Dia seorang sufi yang memiliki banyak murid.
Salah seorang muridnya hendak pergi ke Mursia, sebuah daerah di Spanyol. Kebetulan syaikh kepala ikan ini mempunyai seorang guru sufi besar disana (Syaikh Al-Akbar). “Tolong kamu mampir ke kediaman guruku di Mursia, dan mintakan nasihat untukku,” pesan syaikh kepada muridnya. Si muridpun pergi untuk berdagang. Setibanya di Mursia, dia mencari-cari rumah Syaikh Al-Akbar itu. Dia membayangkan akan bertemu dengan seorang tua, sederhana, dan miskin. Tapi ternyata orang menunjukkannya pada sebuah rumah besar dan luas. Dia tidak percaya, mana ada seorang sufi besar tinggal di sebuah bangunan yang mewah dan mentereng, penuh dengan pelayan-pelayan dan sajian-sajian buah-buahan yang lezat. Dia terheran-heran: “Guru saya hidup dengan begitu sederhana, sementara orang ini sangat mewah. Bukankah dia gurunya guru saya?” Dia pun masuk dan menyatakan maksud kedatangannya. Dia menyampaikan salam gurunya dan memintakan nasihat untuknya. Syaikh pun bertutur, “Bilang sama dia, jangan terlalu memikirkan dunia.” Si murid tambah heran dan sedikit marah, tidak mengerti. Syaikh ini hidup sedemikian kaya, dimintai nasihat oleh orang miskin malah menyuruh jangan memikirkan dunia. Akhirnya dengan kesal ia pulang.
Saat gurunya mendengar nasihat yang diperoleh melalui muridnya dia hanya tersenyum dan sedikit sedih si murid mengernyitkan kening tambah tidak paham. Apa maksud nasihat itu? Guru itu menjawab “Syaikh Akbar itu benar. Menjalani hidup tasawuf itu bukan berarti harus hidup miskin. Yang penting hati kita tidak terikat oleh harta kekayaan yang kita miliki dan tetap terpaut dengan Allah SWT. Bila jadi orang miskin harta, tapi hatinya terus memikirkan dunia. Saya sendiri ketika makan kepala ikan, masih sering membayangkan bagaimana makannya daging ikan yang sebenarnya?”
Kisah ini menunjukkan dua hal: menjadi orang kaya itu tidak mesti jauh dari kehidupan sufi dan menjadi orang miskin tidak otomatis mendekatkan orang pada kehidupan sufistik. Syaikh Al-Akbar yang disebut diatas adalah Muhyiddin Ibn ‘Arabi, salah satu sufi besar dan cemerlang dalam sejarah perkembangan tasawuf.
Sulthanul Aulia Ahli Silsilah ke-36 yang mendapat gelar “Master Dunia Akhirat” mengatakan: “Hanya orang bodoh dan orang gila yang tidak ingin kaya”. Beliau selalu menganjurkan murid-muridnya agar selalu berusaha, jangan malu dalam mencari nafkah asalkan halal dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist serta aturan-aturan negara. Agar bisa berhasil harus mencoba sampai 7 jenis usaha, Beliau mengistilahkan 7 sumber mata air. Beliau berusaha mengubah pandangan keliru terhadap tasawuf, bertasawuf tidak identik dengan kemiskinan, tapi justru dengan bertasawuf mengubah orang bodoh menjadi pandai, orang miskin menjadi kaya namun hatinya tetap bisa terus berzikir memuja Allah SWT.
Syaikh Nasiruddin Ubaidullah Al Ahrary As Samarqandi bin Mahmud bin Sihabuddin QS Salah satu Wali Qutub yang amat kaya. Kekayaannya pernah menutup hutang-hutang kerajaan Samarqan, membantu kerajaan Mugol India keluar dari krisis keuangan. Setiap tahun berzakat 60.000 ton gandum.
Seorang sufi lain mengatakan, kehidupan tasawuf adalah membiarkan tanganmu sibuk mengurusi dunia dan membiarkan hatimu sibuk mengingat Allah SWT.
Iman Ghazali mengatakan, jiwa harus merawat tubuh sebagaimana orang mau naik haji harus merawat untanya. Tapi kalau ia sibuk dan menghabiskan waktunya untuk merawat unta itu, memberi makan dan menghiasinya, maka kafilah (rombongan) akan meninggalkan ia. Dan ia akan mati di gurun pasir. Artinya, kita bukan tidak boleh merawat yang bersifat fisik, tapi yang tidak boleh adalah kita tenggelam didalamnya. Imam Al-Ghazali bertanya ”apakah uang itu membuat mu gelisah? Orang yang terganggu oleh uang belumlah menjadi seorang sufi”. Jadi persoalannya bukan kita tidak boleh mempunyai uang. Justru, bagaimana kita mempunyai uang cukup, tapi pada saat yang sama hati kita tidak terganggu dengan harta yang kita miliki.
Menurut Ibn ‘Arabi, dunia ini adalah tempat kita diberi pelajaran dan harus menjalani ujian. Ambillah yang kurang dari pada yang lebih didalamnya. Puaslah apa yang kamu miliki, betapapun yang kamu miliki itu kurang dari pada yang lain. Tapi dunia itu tidak buruk. Sebaliknya, ia ladang bagi hari akhirat. Apa yang kamu tanam didunia ini, akan kamu panen di akhirat nanti. Dunia adalah jalan menuju kebahagiaan puncak, dan karena itu baik, layak di puji dan dielu-elukan untuk kehidupan akhirat. Yang buruk, lanjut ‘Arabi, adalah jika apa yang kamu perbuat untuk duniamu itu menyebabkan kamu buta terhadap kebenaran oleh nafsumu dan ambisi terhadap dunia.
Nabi Muhammad SAW. Suatu kali ditanya, apa arti keduniawian itu? Rasulullah menjawab, “Segala sesuatu yang menyebabkan kamu mengabaikan dan melupakan Tuhanmu”. Kegiatan-kegiatan duniawi tidaklah buruk pada dirinya sendiri, tapi keburukannya terletak pada yang membuat lupa kepada Allah SWT.
Disamping Ibn ‘Arabi, konon banyak sufi yang hidup makmur. Fariduddin Al-Atthar, yang terkenal mengarang Al-Manthiq Al-Thair (Musyawarah Burung-Burung) itu, di gelari dengan al-Atthar karena perkerjaannya menjual minyak wangi. Junaid Al-Baghdadi dikenal sebagai al-Qawariri, penjual barang pecah belah. Kemudian Al- Hallaj al-Khazzaz, pemintal kapas: dia mencari nafkah dengan memintal kapas. Adalagi Sari as-Saqati, penjual rempah-rempah. Dan banyak lagi yang lain. Ini hanya gambaran bahwa sufi tidak harus menjauhi dunia.
Abu Zaid mengatakan bahwa seorang sufi yang sempurna bukanlah zahid yang tenggelam dalam perenungan tauhid. Bukan seorang wali yang menolak muamalat dengan orang lain. Sufi sejati adalah mereka yang berkiprah di masyarakat. Makan dan tidur bersama mereka. Membeli dan menjual di pasar. Mereka punya peran sosial, tapi tetap ingat kepada Allah SWT. Dalam setiap saat. Inilah hakikat zuhud yang sebenarnya.
PIDATO PROF. DR. H SAIDI SYEKH KHADIRUN YAHYA MA, M.Sc
Posted on April 17, 2008 by SufiMuda
Menganalisa sebab-sebab kekalahan – kekalahan hebat yang dialami Ummat Islam dewasa ini di Timur Tengah serta mengupayakan secara ilmiah – Agamis (METAFISIKA TASAUF ISLAM) mencari Penangkalnya agar tidak terulang kembali kekalahan serupa atas diri kaum muslimin di dunia, khususnya di Indonesia
Bapak-bapak dan ibu-ibu yang kami muliakan, seluruh hadirin dan hadirat yang kami hormati sekalian.
Assalamu ‘alaikum WR.WB.
Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, kita mengadakan disini sebuah sarasehan mengenai, sebuah judul yang maha penting dewasa ini, yaitu : menyelidiki, menganalisa dan menguraikan akan kesalahan-kesalahan pokok dan fundamentil, apa sebabnya Kaum Muslimin di Timur Tengah, khususnya di Teluk Parsi, begitu hebat mengalami penderitaan, penyiksaan, kehinaan-kehinaan dan kelaparan yang sangat berat, sedangkan mereka adalah orang-orang yang beragama Islam, agan yang di akui Allah, satu-satunya agama yang sangat ilmiah dan amaliah, sangat tinggi, agung dan mulia.!
Kita melihat bahwa dalam kejadian – kejadian dahsyat itu, seolah – olah tidak berlaku lagi ayat-ayat Tuhan atau Hadits-hadits Rasulullah SAW bagi kaum muslimin di Teluk Parsi, apalagi jika diingat, bahwa kaum muslimin adalah kaum yang di istimewakan Allah SWT, dimuliakan Allah, selalu dimenangkan Allah dalam segala macam perjuangannya, karena agama islam yang dianut kaum muslimin adalah agama yang terpilih, agama yang tak ada kamus kalahnya ( Al – Mujadilah, ayat 21) tak ada tolok bandingannya.
Al-Mujadilah, Ayat 21:
“Kataballahu la – aghliban – na anaa wa rusulii, in – nallaaha qawiyyun ‘azziz”
Artinya : “Tidak ada kamus kalah bagiKU (dan bagi Kalimah – KU) dan Rasul-KU ( si pembawa-Nya)”
Bahwa satu-satunya agama di akhir zaman yang “Innaddiina indallaahil Islam” Bahwa agama yang diakui Allah adalah Al-Islam, Namun kita melihat penganut-penganutnya di Teluk Parsi, babak belur, porak poranda, menderita, dicoba, disiksa, menderita kelaparan, diburu kesana kemari, seperti hewan berkaki empat saja, nyawanya seolah – olah tidak ada harganya, dahsyat – dahsyat, sekali lagi dahsyat yang diderita kaum muslimin di Timur Tengah itu, inilah yang harus kita pelajari, yang kita harus selidiki, dimana kesalahan pokoknya yang terbesar, agar supaya nantinya segala macam bencara huru-hara bala siksa, semuanya segala cobaan dahsyat itu dan sebagainya, jangan sampai menimpa kaum muslimin ditempat yang lain di dunia ini, khususnya di negara tercinta Indonesia ini.
Sudah jelas Al – Qur’an dan Al – Hadits tidak mungkin berdusta, sudah jelas Tuhan bukan sia-sia dan main-main mengeluarkan “NASKAHNYA” yang maha dahsyat, yang disampaikan oleh Junjungan Kita Rasulullah SAW, nabi paling utama, nabi paling pilihan, penghulu daripada sekalian anbiyaa Allah, sudah jelas segala kesalahan harus ditimpakan kepada Ummatnya, yang mestinya sudah jauh menyimpang dari ajaran-ajaran hakiki Allah SWT.
Dalam pengajaran-pengajaran dalam Al-Islam yang disampaikan oleh Allah dan Rasulullah SAW bahwa hanya kaum Islam yang benar-benar taqwa, hanya kaum muslimin yang benar-benar taqwa saja, kaum itulah yang dipelihara Allah SWT.
Salah satu kesalahan pokok ialah : biasanya kaum muslimin dewasa ini di Dunia selalu saja menganggap dirinya telah memenuhi syarat taqwa dalam beragama, tanpa dicarinya cara untuk menguji coba akan ketaqwaannya itu, ia selalu saja lekas puas diri, Lihat kaum muslimin di Timur Tengah itu! Bukan mereka tidak shalat, bukan tidak puasa, bukan tidak mengeluarkan zakat, bukan tidak naik haji, bukan tidak menyebut dua kalimah syahadat, sebagai pokok utama dari pada Al – Islam, mereka bukan tidak beriman, bukan tidak islam, namun mereka sebenarnya tetap saja belum taqwa, walaupun mereka mengaku bahwa mereka itu benar-benar telah taqwa, karena telah melaksanakan segala suruh dan telah menghentikan segala cegah, tetapi mereka melupakan salah satu syarat pokok yang maha penting dari semua ibadath, dari semua rukun islam, dari semua rukun iman, semua ibadath harus dilaksanakan atas dasar hati yang benar-benar suci, khalis mukhlisin, dan ini hanya dapat terwujud, kalau seluruh unsur-unsur fatal dari seluruh pengaruh angkara murka, hawa napsu, dunia, syaitan, telah hilang lenyap sama sekali dari hati sanubari mereka, Bagaimana mungkin mereka itu melaksanakan hal ini, sedangkan Dunia Islam tidak pernah menseminarkan, kami ulangi seluruh dunia Islam tidak pernah menseminarkan bagaimana caranya pelaksanaan teknis supaya sholat itu berdiri khusuk.
Dunia Islam selama ini hanya menseminarkan syariat islam, kebudayaan, sejarahnya, tarikh – tarikhnya, kemuliaan-kemuliaannya, dan lain-lainnya, tetapi tidak pernah melaksanakan suatu seminar, suatu diskusi mendalam bagaimana cara pelaksaan teknis, supaya shalat itu benar-benar khusuk.
“Hanya orang yang shalatnya khusuk, hanya inilah yang mampu mendapat kemenangan” , mereka yang mampu menegakkan shalat khusuk dalam shalatnya, inilah dia yang akan mendapat kemenangan, sesuai dengan surat Al-Mu’minuun ; ayat 1 dan 2 :
“Qad aflahal mukminuuna alladziina hum fii-shalatihim khyaasyi’uun”
Artinya : “Sesungguhnya mendapat kemenanganlah orang-orang mukmin yang berhati khusuk dalam shalatnya”.
Kita benar-benar harus kuasai, harus ketahui benar-benar akan rahasia cara ilmu pelaksanaan teknisnya, bagaimana cara mendirikan shalat khusuk! Kalau shalat khusuk telah dapat dilaksanakan, ini berarti bahwa semua unsur-unsur, semua gelombang-gelombang, semua getaran – getaran dari angkara murka, hawa napsu, dunia syaitan, telah habis dan hilang sama sekali, karena cara pelaksanaan teknisnya agar supaya shalat itu khusuk, disinilah letak kesalahan yang paling besar, paling pokok dari semua itu, karena tetap saja merajalela, selalu saja dan senantiasa dalam keadaan yang sehalus-halusnya, As-Syaitan dengan selicik-liciknya mendekam dalam hati sanubari kita, Bagaimana mungkin tiap ibadath kita akan dapat khusuk, dan suci murni, dan jelas tidak akan sampai kepada Allah, karena selalu dikotori oleh pengaruh-pengaruh, gelombang – gelombang angkara murka, hawa nafsu, dunia syaitan. Berarti semua ibadath kita akan tertolak, tidak akan sampai pada Allah SWT! “Fawailul lil mushalliin alladziina hum anshalatihim saahuun”
Neraka wail, celaka, bagi orang yang shalat(dan seluruh ibadathnya) karena hatinya lalai daripada mengingat Allah ini buka tafsir mengada – ngada, ini tafsir ilmiah “Al Islaamu ilmiyyun wa’amaliyyun” dan “Al Islaamu ya’luu walaa yu’laa ‘alaihi” Islam itu adalah ilmiah dan amaliah dan islam itu sangat tinggi ilmiahnya, Sebaliknya, kalau Kalimah Allah telah tetap duduk dalam hati sebagai “Penjaga Gawang” yang maha Akbar, yaitu nama Allah yang ditanamkan Allah sendiri, yang dipatrikan Allah, akan nama Allah sendiri, melalui saluran-Nya, maka pastilah akan berangsur-angsurlah angkara murka, hawa nafsu, dunia syaitan akan hilang, maka akan suci murnilah hati sanubari itu, Hati sanubari adalah sebagai pokok pangkal dan tumpuan dari segala ibadath kita ; bukankah Rasul bersabda : “Didalam Bani Adam itu ada segumpal darah, kalau ini suci, sucilah semua amalannya, kalau ini kotor, maka kotorlah semua amalannya” Jadi ini harus disucikan lebih dahulu, agar As-Syaitan hilang dengan segala pengaruhnya, syaitan harus keluar dari hati sanubari kita; bagaimana mungkin dia akan mampu dikeluarkan ! As – Syaitan itu sangat dahsyat, sangat tinggi dimensinya, sangat halus, umurnya telah berabad-abad lamanya, ilmunya tinggi sekali, itulah yang selalu mencengkeram dalam hati sanubari kita; mau diusir dengan “A’udzubillaahi minasy syaithaanir rajiim”, “Produksi” kita sendiri, oleh kita yang masih bergelimang dosa, oleh kita yang serba berkekurangan, sedangkan Kalimah Allah yang kita ucapkanpun belum mampu mencapai pada sisi Allah, karena gelombangnya tidak mencapai gelombang pada sisi Allah SWT!.
Sedangkan Iblis itu bukan main tinggi akan dimensi ilmiahnya! Adam dan Hawa bukan ditipu dipasar malam, tetapi di surga! Lawan yang mampu naik kesurga untuk menipu, begitulah dahsyatnya lawan kita itu sangat hebat, sangat halus, yang umurnya telah berjuta-juta tahun, mana mungkin akan mampu kita mengusirnya dengan “A’udzubillaahi minasy syaithaanir rajiim”,”produksi” kita sendiri, akan larikah dia? Akan hancurkah dia dengan ucapan kata yang secara biasa-biasa saja itu? Jauh Panggang dari Api!!!.
Kalau ia masih bercokol saja didalam hati, ia yang sangat tinggi dimensinya itu dengan kelicikan dan kehalusannya dan tipu dayanya, maka segala ibadath kita akan tertolak, Segala apa sajapun yang kita amalkan tidak akan sampai kepada Allah, dan kalau tidak sampai tentu saja tidak pula akan terbalas, umpamanya saja : Surat yang dikirim tidak sampai kealamatnya, jelas tidak akan berbalas, seperti kacang yang ditanamkan, tidak menyentuh bumi, tetapi hanya sampai pada lapisan pasir saja, dia tidak akan tumbuh, apalagi lapisan pasirnya tebal, lapisan sampai semeter sebagai isolasinya, tak mungkin sampai kepada bumi yang subur, atau seperti batu-batuan tebal sebagai isolasinya, walaupun ditaburi 101 biji tiap hari tidak akan sampai menyentuh bumi yang subur, Dia akan hilang lenyap, tidak sampai pada tujuannya, dia tidak akan membuahkan pekerjaannya, tidak akan berpahala sama sekali.
Disinilah kira-kira letaknya semua kesalahan itu, pokok dari semua bencana dalam hidup kita di Akhirat! Sehingga insan itu tidak mempunyai kekuatan, ia tidak mampu dalam ibadathnya menjuluk turun akan rahmat Allah, sehingga benteng dari Tuhan, Kalimah Allah murni dari Allah sendiri tidak akan berhasil diraihnya, Ibadathnya tidak berhasil, karena tidak memakai cara metodologi bagaimana ia lebih dahulu harus memusnahkan sang iblis dari hati sanubarinya.
Kalau lapisan daripada bumi ini dipertebal lagi dengan batu-batuan, jelas pasir dan batu – batuan itu tidak bisa ditepiskan begitu saja, tidak bisa dicangkul begitu saja, kita harus memakai alat-alat berat, umpamanya ; dengan traktor, dengan metodologi teknologi! Begitu juga untuk membasmi Al-Iblis, As-Syaitan, angkara murka, harus menggunakan teknologi dari Al – Qur’an itu sendiri, Setiap teknologi menghendaki suatu metodologi, ini wajib; tidak ada suatu prosede dalam ilmu teknologi tanpa metodologi! Metodologi dalam Al-Qur’an namanya : Thariqat; begitu tinggi kedudukan Thariqatullah dalam Al-Qur’an yang selama ini selalu diabaikan, di khilafiakan, bahkan disyirikan oleh sebagian Kaum Muslimin karena dipengaruhi, diperdaya oleh kaum Orientalis, musuh berbuyutan daripada kaum muslimin yang mengissukan akan thariqat palsu, “Al Islaamu Ilmiyyun “
Thariqatullah adalah sangat tinggi ilmiahnya, thariqatullah yang sangat tinggi ilmiahnya itu adalah termasuk dalam teknologi Al – Qur’an yang amat akbar.
Teknologi alam semestapun sangat tinggi ilmiahnya, sebagai contoh : air akan yang selama dunia berkembang akan tetap air, Namun begitu di olah dengan teknologi, dengan metodologi elektrolisa atas dasar teori ion Prof. Archenius, air akan menghasilkan atom hidrogen dan atom oksigen, yang jika digabung kembali, dan disulut akan meledak dengan hebatnya, Air yang jinak tadinya dan dingin, dan mampu mematikan api, akan menyemburkan api yang hebat, yang panasnya sangat tinggi, sehingga mampu melebur besi sekalipun.
Ayat Al-Qur’anul Karim yang kita lagukan dengan lagu-lagu yang indah dan merdu dan seronok, ia tetap merupakan lagu selama dunia terkembang, namun begitu diolah dengan metodologinya, dengan teknologi Al-Qur’an, dia akan menjelma sebagai senjata yang maha dahsyat, gunung berapi akan bisa ditundukkan-nya, bumi bisa dibelah-belahnya, gunung-gunung dapat dipindahkan-nya, orang mati dapat dihidupkan-nya, segala bencana akan dileburnya, ditolaknya, dikikisnya habis menjadi Nol (0), kiamat dunia dapat dihalanginya, “Laa taquumus saa’atu hattaa laa yabqaa ‘alaa wajhil ardhi mayyaquluu :Allah, Allah”.
“Tidak akan datang kiamat dunia kalau masih ada orang yang betul-betul beramal dzikrullah dengan metodologi – nya sampai kehadirat Allah SWT”.
Allah akan menurunkan benteng yang maha hebat, kiamat akan terhindar, dan tertunda, walaupun Allah telah menetapkan pada hari ini, jam ini, detik ini, akan kiamat dunia, namun jika dilihat oleh malaikat dan dilapor oleh malaikat kepada Allah, masih ada orang yang berdzikir Allah , Allah, yang gemerlapan, Tuhan akan menunda kiamat itu sampai 40 tahun lagi.
Bukan dzikir yang bergelimang dengan pengaruh iblis, yang tidak sampai pada Allah, tetapi dzikir yang timbul dari hati sanubari yang murni, dimana terpancang Kalimah Allah yang gemerlapan, bersih dari segala angkara murka, dari semua pengaruh gelombang daripada syaitan hingga sampai ke hadirat Allah, Dzikir yang beginlah yang dibalas Tuhan dengan benteng kalimah Allah sendiri, dengan nama Allah sendiri, “Dzikir akan DAKU, Aku akan berikan namaKU kepadamu “ (Al-Baqarah 152).
“Fadzkuruuni adzkurkum wasykuruulii walla tafuruuni”
Artinya : “Dzikirlah Kamu kepada KU, niscaya Aku dzikir kepadamu dan syukurlah kamu kepada –KU dan janganlah kamu mengingkari nikmat-nikmat KU dan ucapan Rasul yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi :
“Bismillaahil ladzi laa yadhurru ma ‘asmihi syai’un fil ardhi wa laa fissama’i wahuwassami’ul aliim”.
Artinya : “Tidak memberi mudharat antara bumi dengan langit bagi orang yang berserta dengan nama Allah”
Wahai kaum muslimin diseluruh dunia, cukuplah rasanya pelajaran bagi kita, bagi kaum muslimin di dunia, tentang apa-apa yang terjadi di Timur Tengah; kita lihat pula disana, bahwa kesatuan dan persatuan sama sekali tidak terwujud lagi, karena digoda oleh syaitan juga, Ukhuwah Islamiyah sama sekali lenyap di Timur Tengah, lihat saja mereka saling bunuh membunuh, khianat mengkhianati, rampok merampok, dan lain-lain; kata Nabi : “Jika ada dua orang mukmin berkelahi, maka nerakalah tempat bagi keduanya”.
Ktia tidak memperpanjang kalam, kita tidak mencari hal-hal yang lain – lain lagi, apa sebab masyarakat di teluk parsi kalah dan menderita, karena kunci deritanya letaknya di hati sanubari orang islam itu juga, Dudukkanlah Kalimah Allah, dengan memakai metodologinya, yaitu metode Thariqatullah dalam hati sanubari kita yang disalurkan dari pada sisi Allah SWT melalui saluran haq-Nya, yaitu via Arwahul Muqaddasah Rasulullah SAW, Dimana telah terpancang Nuurun ‘Alaa Nuurin, yahdillahu linuurihii mayyaasyaa’u, sebagai channel dan frekwensi yang hebat, yang diberikan Allah kepada Rasulullah SAW, yang diteruskan pula oleh para Ulama yang mewarisinya, sambung menyambung antara arwah dengan arwah, dan akhirnya tersambung pula pada arwah kita, Al Ulama’u warasatul anbiya; inilah yang pertama kali seharusnya yang mesti diwarisi, agar kontak dengan Allah, dalam ibadath kepada Allah, dalam berdzikir kepada Allah sampai pada Allah, maka terlaksana pulalah janji Tuhan, yaitu dibalas-Nya, disambut-Nya, maka barulah mengalir kurnia-Nya dengan melalui channel dan frekwensinya, semurni-murninya mengalir kedalam hati sanubari kita, yang pasti mampu menghancurkan segala macam pengaruh angkara murka, hawa nafsu dunia, syaitan, maka barulah mampu berdiri shalatul khasyi’in, yang membawa kita kepada kemenangan hakiki dari Dunia samapi Akhirat.
Uraian ini termasuk kedalam ilmu Eksakta; maka marilah kita renungkan, kita diskusikan dalam waktu yang terluang, kemudian kita bertekad pula mengamalkannya, karena hal ini adalah maha penting dalam ibadath kita, dalam hubungan langsung kita dengan Allah SWT.
Hanya dengan latihan yang sungguh-sungguh kita akan menjadi sarjana daripada suatu cabang ilmu pengetahuan “Wajaahidu Fi Sabilihii”
Sungguh-sungguhlah diatas jalan Allah, kita akan menang Absolut.
“Yaa aayyuhal ladziina aamnuut taqullaaha wabtaqhuu ilaihil wasiilata wajaahiduu fi sabiilihii la ‘allakum tuflihuun”
Perlu sekali channel dan frekwensinya, perlu sekali akan metodologi, barulah terwujud kenyataan akan sesuatu hasil dalam Teknologi Al-Qur’an! Semoga dengan pengertian ini kita laksanakan amaliah kita “Al Islaamu Ilmiyyun wa’amaliyyun”, “Al Islaamu ya’luu walaa yu’laa ‘aalaihi”
Dimensi Kalimah Allah asli dan murni, yang tersalur daripada sisi Allah dalam dimensi yang maha tinggi dengan getaran yang maha ultra sonoor inilah yang akan membentengi kita dari segala macam bencana alam mana saja pun dan neraka sekalipun akan terhindar dari kita; dan Kalimah Allah murni seperti di ataslah, yang mampu untuk menghancurkan segalan lawan kita yang menghadang jalan kita menuju kemenangan hakiki dunia akhirat.
Akan terwujudlah “Bismillaahil ladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wal laa fis sama-i wahuwas sami’ul ‘aliim” dalam kenyataan hidup kita didunia akhirat.
Akan terwujud pula lagi : “Laa taquumus saa’atu hatta laa yabqaa ‘alaawajhil ardhi mayyaquulu : Allah, Allah . “ Kiamat dunia di tunda Tuhan, karena dzikrullah seorang mukmin yang Perkasa!.
Dan akan terwujud pulalah ayat-ayat Al – Qur’anul karim, bukan hanya “Terujud” seperti selama ini dalam karya kata-kata dan cerita, tetapi benar-benar terujud dalam Alam Nyata dan Realita!
Semua Firman Allah akan menjadi kenyataan Akbar, termasuk ayat terdahsyat AR-RA’AD ayat 31:
“Wa lau an-na qur-aanan syu-yirat bihil jibaalu au quthi’at bihil ardhu au kullima bihil mautaa”
Artinya : “Dan sesungguhnya andaikata ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dapat membuat gunung-gunung berjalan/berguncang dahsyat atau bumi dipotong-potong/ dibelah-belah atau orang-orang mati diajak bicara / dapat bicara (hidup kembali) niscaya Kitab Suci itu ialah Al-Qur’an. Dan merekapun tidak juga beriman (dan juga masih tidak terpikir juga untuk merisetnya, walaupun Tuhan mengatakan KEDAHSYATAN AL-QUR’AN itu bertubi-tubi)”
Bahwa Al-Qur’an Majid dapat membelah – belah bumi memindah-mindahkan bukit dan menghidupkan orang mati, dan membenteng kita, dari segala macam bencana dunia akhirat! Allahu Akbar ! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahil hamd.
Kami tidak memperpanjang kalam, yang kami uraikan ini adalah termasuk dalam teknologi Al-Qur’an.
Sekian Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, lebih kurang kami mohon maaf.
Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Prof Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya MA, M.Sc (20 Juni 1917-9 Mei 2001)
adalah seorang tokoh sufi Ahli Silsilah Thareqat Naqsyabandiah Al-Khalidiah yang ke 35, kalau Imam Al Ghazali orang yang berjasa mempertemukan syariat dengan ilmu tasauf maka Prof. Dr. Saidi Syekh Kadirun Yahya MA. M.Sc merupakan pelopor Teknologi Al Qur’an yang menjelaskan Tasawuf dari segi ilmu Eksakta sehingga tidak bisa dibantah dan diperdebatkan.
Siapakah Wali Allah itu?
Posted on April 26, 2010 by SufiMuda
Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).
Tulisan ini saya tujukan kepada orang-orang yang ingin mencari dan bertemu dengan Kekasih Allah yang setiap zaman diturunkan oleh Allah SWT ke dunia untuk membimbing manusia agar tetap di jalan yang diridhai-Nya. Tulisan ini mudah-mudahan bisa membuka hijab orang-orang yang selama ini mengingkari adanya Wali Allah. Siapakah Wali Allah itu? Dan bagaimana kita bisa mengetahui kalau seseorang mempunyai derajat Wali? Berikut pendapat para Syekh tentang Wali Allah.
Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya. Mereka itu terkurung pada sisi-Nya di dalam hijab (dinding penutup) kegembiraan dan takkan dapat melihat kepada mereka seorangpun di dunia ini maupun diakhirat, yakni tiada dapat mengetahui rahasia mereka.
Tanda (alamat) bagi seorang wali itu ada tiga: yakni agar menjadikan kemauan kerasnya demi untuk Allah, pelariannya kepada Allah dan kemasygulannya dengan Allah. Pendapat lain menyatakan, bahwa tanda seorang wali adalah memandang diri dengan kerendahan dan merasa takut akan kejatuhan dirinya dari martabat yang ia berada di atasnya, sambil tidak percaya dengan sesuatu kekeramatan yang nyata bagi dirinya, tiada pula ia tertipu dengannya. Tiada ia memohonkan kekeramatan itu untuk dirinya dan tiada pula ia mengakui (kekeramatan itu).
Al Khaffaz telah berkata: Apabila Allah berkehendak untuk menjadikan hamba-Nya seorang wali, niscaya dibukakan baginya pintu dzikir. Apabila ia telah merasa lezat dengan dzikir itu, maka dibukakan pula atasnya pintu pendekatan. Kemudian ditinggikan martabat-Nya kepada majelis-majelis kegembiraan. Lalu ia didudukkan di atas kursi keimanan untuk disingkapkan (dibukakan) daripadanya hijab (tabir penutup) dan dimasukkannya ia ke pintu gerbang ke-Esaan serta diungkapkan baginya garis-garis ke-Maha Agungan Allah. Pada saat penglihatannya tertuju kepada ke-Maha Agungan serta kebesaran-Nya, niscaya ia akan tinggal tanpa dirinya dan akan menjadi fana (lenyap) untuk tiba menuju pemeliharaan (penjagaan) Allah, agar terlepas dari segala pengakuan dirinya. Baru kemudian ia pun menjadi seorang wali.
Mungkin seorang wali menjadi batal kewaliannya dalam sebagian hal ihwal. Akan tetapi, yang umum atas diri wali di dalam perjalanannya dari kebatalan menuju pada ketetapan adalah kesungguhannya menunaikan hak-hak Allah Swt berbelas kasih kepada para makhluk-Nya dalam segala hal ihwal dengan hati yang sabar, sambil memohon kepada Allah, segala kebaikan diberikan untuk para makhluk. (Mahmud Abul Faidi al Manufi al Husain, Jamharotul Aulia’ Terjemah Abu Bakar Basymeleh, th.1996, Mutiara Ilmu, Surabaya, hlm. 179).
Al Quthub Abdul Abbas al Mursi, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as Sakandari, “Waliyullah itu diliput ilmu dan makrifat-makrifat, sedangkan wilayah hakekat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan idzin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diidzinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”
Dasar utama perkara wali itu, kata Abul Abbas, “Adalah merasa cukup bersama Allah, menerima ilmu-Nya dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath Thalaq : 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (az Zumar : 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al Alaq : 14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu menyaksikan segala sesuatu ? (QS. Fushshilat : 53)”
Wali-wali itu merupakan orang-orang yang akan meneruskan hidup suci dari Nabi, orang-orang yang mujahadah, orang-orang yang menjaga waktu ibadat, yang rebut-merebut mengerjakan taat, yang tidak ingin lagi merasakan kelezatan lahir, kenikmatan panca indera, mengikuti jejak Nabi, mencontoh perbuatan Muhajirin dan Anshar, lari ke gunung dan gua untuk beribadat, melatih hati dan matanya untuk melihat Tuhan, merekalah yang berhak dinamakan Atqiya’, Akhfiya’, Ghuraba’, Nujaba’, dan lain-lain nama-nama sanjungan yang indah yang dipersembahkan kepada mereka.
Nabi berpesan, bahwa Tuhan mencintai Atqiya’ dan Akhfiya’, Tuhan mencintai Ghuraba’, yaitu mereka yang ke sana-ke mari menyelamatkan agamanya, yang nanti akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama-sama Isa bin Maryam, Tuhan mencintai hamba-Nya yang membersihkan dirinya, yang melepaskan dirinya daripada kesibukan anak bini, cerita-cerita yang indah yang pernah disampaikan oleh Abu Waqqash, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah dan lain-lain yang menjadi pembicaraan dalam kitab “Hilliyatul Auliya”, sebagai kitab besar yang menyimpan keindahan dan kemegahan wali-wali itu.
Diceritakan lebih lanjut dalam kitab-kitab sufi, bahwa wali-wali itu merupakan qutub-qutub atau khalifah-khalifah Nabi yang tidak ada putus-putusnya terdapat di atas permukaan bumi ini. Mereka meningkat kepada kedudukannya yang mulia itu sesudah mengetahui hakekat syari’at, sesudah memahami rahasia kodrat Tuhan, sesudah tidak makan melainkan apa yang diusahakan dengan tenaganya sendiri, sesudah tumbuh dan jiwanya suci, tidak memerlukan lagi hidup duniawi, tetapi semata-mata menunjukkan perjalanannya menemui wajah Tuhan.
Di antara para wali terdapat wali-wali Allah yang pangkatnya sangat digandrungi oleh para Nabi dan para Syuhada’ pada hari kiamat seperti hadits Rasulullah Saw :
Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)
Kemudian Rasul membacakan firman Allah Swt:
Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).
Pernah Rasulullah Saw ditanya tentang siapa para wali Allah itu? Beliau menjawab: “Mereka itulah pribadi-pribadi yang apabila dilihat orang, niscaya Allah Swt disebut bersama (nama)-Nya.” Mereka terbebas (terselamatkan) dari fitnah dan cobaan dan terhindar dari malapetaka. Nabi bersabda :
اِنَّ ِللهِ ضَنَائِنَ مِنْ عِبَادِهِ يُعْذِيْهِمْ فِى رَحْمَتِهِ وَيُحْيِيْهِمْ فِى عَافِيَتِهِ اِذَا تَوَافَّاهُمْ تَوَافاَّهُمْ اِلَى جَنَّتِهِ اُولَئِكَ الَّذِيْنَ تَمُرُّ عَلَيْهِمُ الْفِتَنُ كَقَطْعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ وَهُوَ مِنْهَا فِى عَافِيَةٍ
Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang baik (yang tidak pernah menonjolkan diri di antara para hamba-Nya yang dipelihara dalam kasih sayang dan dihidupkan di dalam afiat (sehat yang sempurna). Apabila mereka diwafatkan, niscaya dimasukkan kedalam surganya. Mereka terkena fitnah atau ujian, sehingga mereka seperti berjalan di sebagian malam yang gelap, sedang mereka selamat daripadanya.
Jadi, seorang Wali akan mengalami hinaan dan makian sebagaimana yang dialami oleh Para Nabi dan itu tidak akan menyurutkan langkah mereka untuk berdakwah membesarkan Nama Tuhan. Saya jadi ingat ucapan Guru dari Guru saya kepada Beliau ketika Beliau masih berguru. “Nanti suatu saat nanti sejuta orang mengatakan kau masuk neraka tidak usah kau takut, kecuali yang SATU itu”
“Cintailah yang di bumi maka yang di langit akan mencintaimu” Semoga Allah SWT berkenan mempertemukan kita dengan Kekasih-Nya di muka bumi agar kita bisa mencintai kekasih-Nya dengan demikian maka Allah SWT pasti mencintai kita. Amin Ya Rabbal ‘Alamin